Pages

Thursday 22 December 2011

Usahawan Pengangkutan - Konsortium Bas Semenanjung


Konsortium Bas Ekspres Semenanjung (KBES) adalah layanan bis ekspres (_express bus_) yang melayani rute darat di Semenanjung Malaysia dan juga ke negara lain seperti Hat Yai (juga disebut Hadyai atau Had Yai), Thailand dan Singapura. Mereka juga menyediakan layanan sewa (_carter_).
Layanan bis ini (atau bas dalam pengucapan Bahasa Melayu) terdiri dari berbagai kelas, semuanya mempunyai pendingin udara (AC). Tiket bisa didapatkan melalui beberapa cara, yaitu: lewat situs KBES, melalui loket pemesanan langsung seperti yang tersedia di Terminal Puduraya (Hentian Puduraya), atau via agen wisata atau hotel di Malaysia. Berhati-hatilah dengan pencopet, calo tiket, dan lainnya yang kurang mengenakkan, terlebih bila lewat larut malam di terminal ini.
Kami belum pernah melalukan pemesanan tiket melalui situs KBES, jadi kami tidak dapat mengkonfirmasikan kesahihan dan kualitas layanan ini. Bahkan seperti terdapat pada situs KBES, layanan pemesanan hanya tersedia pada pukul 7:00 am – 12:00 am waktu Malaysia. Menurut riset, tiket yang dipesan melalui sistem online adalah semacam kupon tiket, jadi itu belum merupakan tiket yang sah. Kupon tiket tersebut, seperti dijelaskan dalam halaman FAQ, harus ditukarkan di kaunter KBES di terminal paling lambat 30 menit sebelum keberangkatan. Menurut infomasi dari manual KBES, pemesan tiket online dapat memilih tempat duduk yang tersedia. Tiket yang telah dipesan tidak dapat diuangkan kembali atau ditukar.
Kalau tak salah, ada tiga kelas yang dijual di loket terminal bas Puduraya. Kami mempunyai pengalaman mencoba bus ini dari Kuala Lumpur ke Hat Yai, Thailand pada pertengahan 2009 lalu. Kami pernah menemukan beberapa kelas bis lainnya, seperti kelas bis susun (_double deck_), namun kami belum pernah mencobanya.























Trip untuk kelas yang paling bagus adalah RM 60 (sekitar Rp170.000), nama kelasnya adalah Snoozer. Kelas Snoozer mempunyai tiga tempat duduk setiap barisnya (lihat foto di atas) dan sembilan baris tempat duduk (atau total kapasitas 27 penumpang). Kelas Snoozer mempunyai sebuah layar televisi kecil (9″?) dan _headset_ stereo pada masing-masing kursinya. Sandaran kursi dapat dinaikkan atau diturunkan (recliner seat), terdapat pula sandaran kaki yang bisa diatur mealui kontrol di dekat sandaran tangan. Para penumpang bisa memilih berbagai film dan tayangan yang disediakan dengan kontrol yang tersedia di masing-masing kursi.
Bis kelas Snoozer tidak mempunyai toilet (WC) di dalamnya seperti kebanyakan bis kelas eksekutif di Indonesia. Tapi mungkin hampir seluruh bis di Malaysia seperti itu. Namun penumpang tak usah khawatir, bis ini sering sekali berhenti dalam perjalanan. Mungkin semacam terminal atau titik pelaporan. Saya kira kita bisa ijin pengemudi bila ingin tandas dahulu (sekadar buang air kecil).
Seperti juga normalnya transportasi lintas negara, para penumpang juga harus melewati imigrasi ketika akan masuk dan keluar perbatasan, misalnya keluar dari Malaysia, dan masuk ke Thailand. Jalur bis ke Hat Yai akan melalui perbatasan Bukit Kayu Hitam, Propinsi Kedah di Malaysia dan Sadao, Propinsi Songkhla di Thailand.
Dalam perjalanan dari Kuala Lumpur (Hentian Puduraya), Malaysia ke Hat Yai, Thailand, kami mendapat kesempatan dua kali berhenti. Perhentian pertama saat itu masih gelap, mungkin sekitar pukul 2:00 pagi (atau mungkin sebelumnya, saya kurang mencatat detil waktunya). Penumpang diberi kesempatan turun dan menengok sebuah toko camilan yang ada di situ. Yah, mirip dengan keadaan peristirahatan bis di Indonesia pada umumnya, namun toko camilan ini hanya adalah satu saja. Bis kemudian melanjutkan perjalanan hingga perhentian kedua.

Perhentian kedua pada pukul 03:30 AM di sebuah tempat peristirahatan di dekat perbatasan Malaysia. Tempat peristirahatan ini dikelola oleh CTC Recreation Berhad. Menurut informasi yang kami dapatkan dari beberapa penumpang lain, sebentar lagi kita akan mendekati perbatasan Bukit Kayu Hitam, jadi mungkin wajar penumpang dibangunkan agar menyiapkan diri. Dan juga ada warung dan toilet. Saatnya tandas! Kami menyempatkan diri untuk menyegarkan badan, cuci muka dan buang air serta sikat gigi. Dan karena masih diberi waktu agak longgar sekitar 30 menit, kami menyempatkan diri mencicipi makanan yang dijual di situ. Tersedia berbagai jenis makanan, bahkan sebuah toko mengaku menjual makanan Indonesia. Kami meninggalkan tempat peristirahatan ini sekitar pukul 04:15 AM.
Pada pukul 04:30 AM kami sampai di pintu perbatasan Bukit Kayu Hitam. Antrian kendaraan cukup panjang, bis kami mengantri sekitar 20-30 menitan. Saya menyempatkan diri salat Subuh di sebuah mushalla di dekat pintu perbatasan. Seluruh penumpang bis diminta keluar dan menuju antrian imigrasi. Ada sekitar empat atau enam pintu imigrasi yang melayani ratusan penumpang itu. Akhirnya pada pukul 05:05 AM kami sudah keluar pintu imigrasi. Sementara itu kami menanti seluruh penumpang bis lainnya selesai lewat imigrasi. Terdengar kabar beberapa penumpang, yang belakangan kami tahu mereka ibu-ibu dari Indonesia, mempunyai masalah karena kehilangan kupon imigrasi berstempel Malaysia.

Setelah beberapa saat, kami masuk perbatasan Sadao, propinsi Songkhla, Thailand. Seluruh penumpang kembali diminta turun bis dan melaporkan dirinya masing-masing. Setelah melewati pintu imigrasi terus terang kami agak kebingungan dengan lokasi bis kami. Ditambah minusnya petugas yang bisa bahasa Inggris, kami agak khawatir di mana letak bis kami berada. Akhirnya kami menemukan lokasi parkir bis dan kendaraan, di sebuah lapangan yang letaknya pada sebelah kiri pintu keluar imigrasi. Di sana kami kembali menunggu seluruh penumpang bis lainnya selesai keluar pintu imigrasi. Bis lalu meluncur kembali hingga perhentian terakhir di Hat Yai, sekitar 20 km dari titik perbatasan tersebut. Tempat perhentian terakhir adalah sebuah agen perjalanan mitra KBES, di sebuah sudut jalanan Hay Tai, dekat sebuah mal kecil. Saya lihat ada jaringan restoran makanan siap saji terkenal dibuka di situ. Suasana Hat Yai mirip dengan kebanyakan kota-kota kecil di Indonesia.
Kredit foto perbatasan Bukit Kayu Hitam dan Sadao, Wikipedia.

No comments:

Post a Comment